• Olahraga
  • Otomotif
  • Kesehatan
  • Bisnis
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Berita
  • Wisata
›Beranda›Kesehatan›Bagaimana Mengukur Jejak Maut Gelombang Panas di Jerman?Artikel

Bagaimana Mengukur Jejak Maut Gelombang Panas di Jerman?

Kesehatan2026-09-08 05:02:4732549

Sengatan panas atau heatstroke biasanya diawali dengan sakit kepala, pusing, hingga kehilangan kesadaran.

Pada kondisi ini, mekanisme pengatur suhu gagal bekerja sehingga temperatur tubuh melonjak ke batas yang mengancam nyawa. Sengatan panas bisa memicu kegagalan multiorgan hingga kematian. Namun begitu, ia jarang dicantumkan sebagai penyebab kematian.

Menurut Kantor Statistik Federal Jerman, rata-rata per tahun hanya terdapat 21 kasus kematian akibat suhu panas selama periode 2004–2014.

Sebabnya, "angka 5.120 kematian terkait panas" di Jerman hingga 28 Juni 2026 yang dipublikasikan Robert Koch Institute merupakan perkiraan. Namun, estimasi RKI bukan tak berdasar.

"Angka ini merupakan hubungan yang didasarkan pada analisis statistik," kata Alexandra Schneider, ahli meteorologi, epidemiologi, sekaligus Wakil Direktur Institut Epidemiologi di Helmholtz Zentrum München.

Estimasi tersebut diperoleh dengan membandingkan angka kematian yang dikumpulkan Kantor Statistik Federal Jerman dengan data perkembangan suhu udara, yang dikumpulkan Dinas Meteorologi Jerman dalam kurun waktu tertentu.

Pada pekan terakhir Juni saja, sekitar 23.600 orang tercatat meninggal dunia di Jerman. Sementara suhu rata-rata mingguan—yakni rata-rata suhu siang dan malam selama satu pekan—mencapai 26 derajat Celsius. Menurut RKI, kematian akibat panas mulai meningkat ketika suhu rata-rata mingguan melampaui 20 derajat Celsius.

Jumlah kematian pada pekan terakhir Juni itu hampir 30 persen lebih tinggi dibandingkan angka rata-rata pada periode yang sama di tahun-tahun sebelumnya, yakni sekitar 18.200 kematian. Untuk memperkirakan jumlah kematian akibat panas, para peneliti memodelkan berapa banyak orang yang diperkirakan meninggal dunia, apabila suhu maksimum tidak melebihi 20 derajat Celsius.

Schneider menjelaskan bahwa sejumlah faktor lain yang dapat memengaruhi hasil analisis juga telah disesuaikan dalam model statistik tersebut. Dengan metode itu, RKI memperkirakan terdapat 5.120 kematian terkait panas, di mana 4.310 di antaranya terjadi hanya pada pekan terakhir Juni.

Alexandra Schneider mengamini estimasi tersebut. Padahal di masa lalu, dia pernah mengkritik metode yang digunakan RKI. Menurutnya, jika suhu dalam satu pekan berfluktuasi tajam, maka penggunaan angka rata-rata mingguan dapat menihilkan lonjakan suhu dalam data statistik. Akibatnya. jumlah kematian akibat panas cenderung terestimasi lebih rendah.

"Namun kali ini cuaca panas berlangsung terus-menerus," ujarnya.

Seperti halnya kematian akibat panas, angka kematian yang berkaitan dengan cuaca dingin juga merupakan hasil estimasi berdasarkan relasi statistik.

Pada musim dingin, penyakit saluran pernapasan biasanya meningkat. Selain itu, suhu dingin—sama seperti suhu panas—dapat memicu gangguan sistem kardiovaskular, kata Schneider.

"Di Eropa, angka kematian yang berkaitan dengan cuaca dingin masih jauh lebih tinggi dibandingkan kematian akibat panas," ujarnya. "Namun, kini terlihat adanya pergeseran secara perlahan."

Apakah krisis iklim yang menghangatkan musim dingin akan mengurangi jumlah kematian? Pertanyaan itu juga telah dikaji para peneliti melalui berbagai pemodelan.

Menurut Schneider, dalam berbagai skenario, hasilnya tetap sama.

"Efek bersihnya, yakni jumlah kematian secara keseluruhan, tetap meningkat."

Penyebabnya, peningkatan kematian akibat panas jauh lebih besar dibandingkan penurunan kematian yang berkaitan dengan cuaca dingin.

Schneider mengatakan, jika perhatian hanya difokuskan pada sengatan panas sebagai penyebab kematian, dampak kesehatan akibat suhu tinggi akan sangat diremehkan.

"Karena itu digunakan metode statistik untuk melihat dan meneliti hubungan antara panas dengan berbagai penyakit kronis lainnya."

Dia sendiri terlibat dalam sejumlah penelitian yang menunjukkan kaitan antara suhu tinggi dan berbagai penyakit.

"Kami dapat menunjukkan bahwa panas kini berkaitan erat dengan meningkatnya kejadian serangan jantung," katanya.

Selain itu, suhu udara yang tetap tinggi pada malam hari juga meningkatkan risiko stroke.

Jonas Sonnenstuhl, seorang paramedis di Teltow, Brandenburg, mengatakan para tenaga kesehatan sudah memahami bahwa kasus stroke dan serangan jantung meningkat ketika cuaca sangat panas, sekaligus menjadi lebih cepat berakibat fatal.

Schneider menyebut angka kematian akibat panas hanya sebagai puncak gunung es. Meskipun suhu tinggi tidak selalu menyebabkan kematian, kondisi tersebut tetap menjadi beban serius bagi kesehatan, terutama bagi orang yang telah memiliki penyakit akut.

Sonnenstuhl menceritakan pengalamannya menangani seorang pasien perempuan berusia 17 tahun yang memiliki kelainan jantung bawaan dan menghubungi layanan darurat saat gelombang panas melanda.

"Hari itu dia menunjukkan gejala yang jelas menandakan tubuhnya sudah mencapai batas."

Pasien tersebut mengalami sesak napas, pusing, dan gangguan kesadaran.

Gelombang panas juga membawa tantangan tersendiri bagi petugas ambulans dan tenaga rumah sakit. Pada 28 Juni, ketika menjalani giliran dinas selama 24 jam, Sonnenstuhl mengatakan suhu di dalam ambulans tidak pernah turun di bawah 30 derajat Celsius. Kondisi itu diperberat oleh pakaian kerja yang tebal, sepatu bot berujung baja, serta tuntutan pekerjaan fisik yang berat.

Menurut Sonnenstuhl, banyak instalasi gawat darurat rumah sakit belum dilengkapi pendingin ruangan, demikian pula pos-pos ambulans.

"Baik kami maupun tenaga medis di rumah sakit sama-sama berada di batas kemampuan."

Padahal, bagi mereka yang bertugas menyelamatkan nyawa, kemampuan untuk tetap berpikir jernih merupakan syarat yang tidak bisa ditawar.

Artikel ini terbit pertama kali dalam Bahasa Jerman Diadaptasi oleh Rizki Nugraha

Editor: Yuniman Farid

URL artikel:http://www.papertraillab.com/html/86a799906.html
Hak Cipta

Artikel ini mewakili pandangan penulis, bukan posisi situs.
Diterbitkan dengan izin penulis; dilarang menyalin tanpa izin.

Artikel Terkait

  • LNG Abadi Masela Serap 12.000 Tenaga Kerja, Pemerintah Prioritaskan Warga Lokal

  • Gaji Kepala Daerah Stagnan Seperempat Abad, Rencana Revisi Sempat Kandas

  • Reaksi PKB ke Gus Yahya yang Sebut Cak Imin Tak Pernah Jadi Pengurus NU

  • Cegah Truk ODOL Masuk Jalan Protokol Jakarta, Jembatan Timbang Perlu Ditambah

  • Kasus Santri Terbakar di Lombok Tengah, 2 Tersangka Diperiksa Polda NTB

  • Urai Kepadatan Ketapang-Gilimanuk, Menhub Optimalkan Pelabuhan Tanjung Wangi dan Celukan Bawang

  • Prabowo Bocorkan Bakal Launching Motor Listrik Nasional

  • Selain Don Ritto, Uang Miliaran dan 74 Kg Emas Dilimpahkan ke Kejagung Besok

Artikel Populer

  • 1Kolaborasi Heri Dono dan Adelle, dari Kanvas ke Koleksi Perhiasan
  • 2Pelindo Terminal Petikemas Raih 2 Penghargaan di Ajang GSPI ASRI 2026
  • 3339 Angkot Tua Bogor Berhenti Mengaspal, Sisa 1.441 Unit Menyusul Dikandangkan
  • 4Perkara Klakson Berujung Konflik Antar-tetangga hingga Digotong Paksa
  • 53 Perwira Senior dan 5 Insinyur Kementerian Pertahanan Irak Diduga Korupsi Proyek Rp 1,28 Triliun
  • 6Jadi Tersangka dan Ditahan 2 Hari, Admin "TheKerupuk" Akhirnya Dibebaskan
  • 7KPK Cecar Anggota BPK soal 'Pengaturan' Temuan Audit di Kasus Bupati Edison
  • 8Trump Raup Rp 17,9 Triliun dari Kripto dalam Setahun, Termasuk dari Koin Meme
  • 9Kebakaran di TPS Liar Cikeas Terjadi Sejak Pekan Lalu, Asap Kini Muncul Lagi
  • 10Gempa M 7,3 di Meksiko Picu Peringatan Tsunami
  • 11Anjasmara Minta Maaf, Tegaskan Ucapannya Saat Live Bukan Ditujukan pada Syifa Hadju
  • 12Iran Tuduh AS Lakukan Kejahatan Perang Usai Infrastruktur Vital Diserang

Tag Populer

  • Kesehatan
  • Otomotif
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Hiburan
  • Berita
  • Wisata
  • Teknologi

Populer Situs

5 Berita Terpopuler Internasional Hari Ini

Mengapa Jatuh Cinta Bisa Memicu Rasa Takut dan Cemas?

Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan

775 Siswa Bintara Polda Metro Berkemampuan SPKT Resmi Dididik di SPN Lido

Pimpinan BGN yang Baru pun Heran Laporan Keuangan Era Dadan Dapat WTP BPK

Viral Ekskavator Tercebur di Kali Cakung Lama, Dinas SDA Evakuasi Malam Ini

BPDP: Riset Sawit Jangan Berhenti di Jurnal, Harus Masuk ke Industri

Jejak Penculikan Atlet Golf Jesslyn Wijaya, Terdeteksi di Jakut hingga Malaysia

Artikel Populer

  • 1Pansus DPR Serap Aspirasi Pemprov Maluku soal RUU Daerah Kepulauan
  • 2Viral karena Disebut Mirip "Yesus", Penjual Kambing Asal Kota Batu Sempat Ragu Bikin Konten
  • 3RUU Masyarakat Adat Ditargetkan Sah Jadi UU pada Periode Presiden Prabowo
  • 4Ahli TPPU Beberkan Modus Perkara 3 Korupsi yang Jerat Febrie Adriansyah
  • 5PP 30/2026: Unduh Data Perusahaan Kena Tarif Rp 500.000, Paket 100 Perusahaan Rp 5 Juta
  • 6Kurir Ojol Diduga Bawa Kabur Pesanan Laptop Warga Jakpus, Polisi Selidiki
  • 7FDA Izinkan 20 Varian ZYN Dipasarkan dengan Klaim Risiko Rendah dari Rokok
  • 8Febrie Adriansyah Punya Dua Status Hukum dalam Kasus yang Sama, Ini Kata Pakar
  • 94 RT di Keranggan Tangsel Alami Kekeringan, 13.000 Liter Air Bersih Disalurkan
  • 10Kortas Tipikor: Korupsi Modal Terkait Batu Bara Diduga Rugikan Negara Rp 38,9 M

Tautan

    ©2026  Powered By Paper Trail Lab -  Peta Situs

    Sebagian konten berasal dari internet. Jika melanggar hak Anda, hubungi kami; kami hapus dalam 36 jam.

    • Berita
    • Otomotif
    • Kesehatan
    • Bisnis
    • Olahraga
    • Teknologi
    • Hiburan
    ×