• Olahraga
  • Otomotif
  • Kesehatan
  • Bisnis
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Berita
  • Wisata
›Beranda›Kesehatan›Great Stink: Saat Bau Tengik Menyelimuti LondonArtikel

Great Stink: Saat Bau Tengik Menyelimuti London

Kesehatan2026-09-08 05:03:399389

Sungai Thames pernah berbau busuk parah hingga membuat warga kesulitan bernafas. Mereka yang mampu, segera meninggalkan kota. Mereka yang tak punya pilihan lain lantas membasahi tirai dengan kalsium klorida untuk menahan bau busuk. Saat keluar rumah, mereka menempelkan sapu tangan ke hidung. "Siapa pun yang pernah menghirup bau busuk ini tidak akan pernah melupakannya, dan bersyukur jika masih hidup," demikian jelas pers lokal.

Hal itu terjadi di tahun 1858. Selama berminggu-minggu, suhu di musim panas terik berada di atas 30 derajat, tidak ada setetes pun hujan yang mendinginkan kota dan menyapu kotoran di Sungai Thames.

Thames yang jadi urat kehidupan di London, berubah layaknya saluran pembuangan kotoran. Airnya keruh berlumpur, penuh kotoran manusia dan hewan, segala macam sampah, serta limbah industri dari pabrik-pabrik.

Di tengah suhu panas yang memecahkan rekor, kotoran dan sampah yang membusuk terpapar sinar matahari tanpa henti, mengeluarkan bau busuk yang menyelimuti kota dan membuat udara terasa menyesakkan.

Antara tahun 1800 dan 1850, jumlah penduduk London meningkat dua kali lipat menjadi 2,5 juta orang. Pada masa itu, ibu kota Kekaisaran Britania Raya ini merupakan metropolis terbesar di dunia. Namun, sistem pembuangan yang usang dan beban berlebih tidak mampu menampung jumlah penduduk kota tersebut; pipa-pipanya mengalirkan segala macam kotoran langsung ke Sungai Thames.

Toilet model baru, yang mulai dibeli oleh warga kaya sejak pertengahan abad tersebut, justru memperburuk keadaan: kotoran langsung terbuang ke sungai. Sebelumnya, para pengumpul kotoran mengosongkan tangki septik di malam hari. Saat banjir, sungai tersebut meluapkan limbah ke jalan-jalan.

Bau hebat Sungai Thames pun mencapai dimensi baru, hingga tercatat dalam sejarah. "Sebuah saluran pembuangan mematikan mengalir melintasi jantung kota, bukan aliran sungai yang indah dan segar," tulis sastrawan terkenal Charles Dickens dalam karyanya "Little Dorrit". Namun demikian, orang-orang tetap menggunakan air tersebut untuk mencuci dan minum.

Pada musim panas tersebut penyakit disentri, tifus, dan kolera yang ditakuti menyebar dengan cepat. Orang-orang percaya penjelasan medis "miasma" yang mematikan dari zaman kuno . Mereka percaya, menghirup bau busuk atau tercemar, membuat mereka sakit.

Namun, sejak wabah kolera terakhir yang menewaskan sekitar 30.000 orang antara tahun 1831 dan 1854, dokter John Snow sudah mulai curiga. Di kawasan kumuh Soho pada masa itu, sekitar 500 orang meninggal setelah tangki septik meluap. Ia yakin bahwa air minum yang terkontaminasilah yang jadi penyebab penyakit.

Ia memerintahkan agar tuas pompa air di kawasan tersebut dibongkar. Hal ini menghentikan penyebaran penyakit. Selanjutnya, ia menyelidiki kasus-kasus kematian di sekitar pompa air lainnya dan menemukan bahwa di sekitar pompa-pompa tersebut, banyak warga yang terjangkit kolera. Namun banyak politisi yang belum mempercayai Snow saat itu. Pada Juni 1958, Snow meninggal, tidak lama sebelum terjadinya "Great Stink".

Metropolitan Board of Works, badan pengelola pembangunan kota, telah bertahun-tahun mendesak agar sistem saluran pembuangan London diperbarui. Namun, Parlemen saat itu belum menyetujui anggaran yang diperlukan. Proyek-proyek prestisius lebih menarik perhatian daripada infrastruktur bawah tanah. Namun, hal itu berubah ketika para anggota parlemen tersebut merasakan sendiri bau busuk yang menyengat itu.

Istana Westminster, yang baru dibangun beberapa tahun sebelumnya di tepi Sungai Thames, menjadi markas Parlemen Inggris. Namun anggota parlemen tidak dapat memikirkan urusan pemerintahan di tengah bau hebat "Great Stink". Para anggota parlemen pun mengungsi ke pedesaan. Dan mereka mengambil keputusan yang telah mereka tunda selama bertahun-tahun: London harus segera dibebaskan dari "uap berbahaya" Sungai Thames. Dalam waktu 18 hari, rancangan undang-undang untuk mendanai sistem saluran pembuangan baru disahkan dan tiga juta pound tersedia untuk proyek tersebut.

Insinyur Joseph Bazalgette ditugaskan untuk mengerjakannya. Ia merancang jaringan terowongan bawah tanah sepanjang sekitar 1.800 kilometer, yang menampung limbah dari jalan-jalan dan ruang bawah tanah kota, tidak langsung membuangnya langsung ke Sungai Thames.

Selain itu, Bazalgette memerintahkan pembangunan bendungan dan trotoar tepi sungai yang menyembunyikan pipa pembuangan utama bawah tanah sekaligus melindungi kota dari banjir. Terakhir, ia membangun dua stasiun pompa raksasa yang mengangkat air limbah agar dapat dialirkan lebih jauh. Stasiun Pompa Abbey Mills yang selesai dibangun pada tahun 1868 sering disebut sebagai "Katedral Air Limbah" karena arsitekturnya yang megah dan jadi penanda kemenangan atas kotoran, sampah, dan penyakit.

Pada tahun 1875, proyek ini selesai. Bazalgette telah menciptakan sistem pembuangan limbah paling modern di dunia pada masa itu. Insinyur ini begitu visioner merancang kapasitas sistem saluran pembuangan untuk populasi kota yang dua kali lipat lebih besar, yaitu sekitar empat setengah juta jiwa. Sejak saat itu, kolera menjadi bagian dari sejarah.

Satu setengah abad kemudian, hampir sembilan juta orang tinggal di London, telah menyumbat pipa-pipa dari era Victoria dengan produk zaman modern, mulai dari pembalut, popok, kondom, hingga sisa makanan. Hingga tahun 2025, infrastruktur karya Bazalgette masih menanggung beban utama sistem drainase London, dengan beberapa bagian diperluas.

Pada tahun 2025, Terowongan Thames Tideway sepanjang 25 kilometer diresmikan, karena sistem bersejarah Bazalgette sudah tidak lagi memadai.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Yuniman Farid

URL artikel:http://www.papertraillab.com/html/599c799393.html
Hak Cipta

Artikel ini mewakili pandangan penulis, bukan posisi situs.
Diterbitkan dengan izin penulis; dilarang menyalin tanpa izin.

Artikel Terkait

  • Belajar Coding Otodidak, Bocah SD Boyolali Temukan Celah Keamanan NASA

  • Dedi Mulyadi Bandingkan Kepemimpinan Indonesia dengan Timnas Argentina

  • Dedi Mulyadi Bandingkan Kepemimpinan Indonesia dengan Timnas Argentina

  • Update Harga Emas Hari Ini di Pegadaian, Galeri 24 dan UBS Naik

  • Waka BGN Ungkap Prabowo Minta Seluruh Menteri Terkait Bantu Benahi MBG

  • Harga Daging Sapi Naik, Pedagang Bakso di Lamongan Dilema Hendak Naikkan Harga

  • Bukan Sekadar Arisan, Ada Cerita yang Menyatukan Keluarga

  • Untuk Pertama Kali, Sinar-X Berhasil Digunakan di Luar Angkasa

Artikel Populer

  • 1Kisah Pilu Wanita di Bekasi: Cari Perlindungan dari Kekerasan Ibu, Jadi Korban Kekerasan Seksual Paman
  • 2Batang Jadi Lokasi Akad Massal 62.000 KPR FLPP, Prabowo Bakal Hadir
  • 3ABK Kapal Tanker MT Alejandro Dievakuasi Darurat di Pangkalbalam, Alami Sesak Napas Saat Berlayar
  • 4Bangor Fest Vol. 4 Umumkan Line-up Hari Kedua, Ada Bernadya hingga Aldi Taher Gallagher
  • 5Kronologi Kecelakaan Maut Sibolangit, Diduga Akibat Rem Blong
  • 6"Suami Saya Berangkat dan Pulang Kerja Enggak Mandi", Cerita Warga Koceak Tangsel Dilanda Kekeringan
  • 7Aturan Pemerintah soal Penggunaan Gawai di Sekolah, Ini 3 Jenis yang Dibatasi
  • 8Mitos atau Fakta, Smart Key Digesek ke Kepala Bikin Sinyal Kuat Lagi?
  • 9Pria di Koja Jakut Dibacok Begal hingga Luka Parah, Polisi Selidiki
  • 10KM Nurul Salsa yang Tenggelam di Selayar Over Kapasitas, Nahkoda Diamankan Polisi
  • 11Garda Prabowo Cabut Aduan Terhadap Tiyo Ardianto, Sebut Presiden Memaafkan
  • 12Marak Truk Tabrak Jembatan di Jakarta, Berapa Batas Tinggi Maksimal?

Tag Populer

  • Berita
  • Otomotif
  • Bisnis
  • Pendidikan
  • Hiburan
  • Wisata
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Teknologi

Populer Situs

Strategi Timnas Voli Putra Indonesia Lawan Vietnam di Semifinal SEA V Cup 2026

Jangan Pernah Transfer Uang ke Rekening Pribadi Sales Saat Beli Mobil

Pabrik Garmen PT Samwon Jepara Tutup Agustus 2026, 670 Pekerja Terancam PHK

Bupati Sumenep: KDMP dan Koperasi Konvensional Bisa Berkembang Berdampingan

Standing Motor di Atas Jembatan, Pria Kampar Terjatuh ke Sungai dan Hilang

Komdigi Jateng Sebut Dinsos Jadi Korban Peretasan 1,2 Juta Data Bansos, Tak Ada Niat Jahat

Masyarakat Tidak Mampu Bisa Dapat Layanan Hukum dengan Tarif Rp 0

Siap Produksi, Ini Bocoran Paten Honda V3R Pakai Supercharger

Artikel Populer

  • 1Jadi Tersangka dan Ditahan 2 Hari, Admin "TheKerupuk" Akhirnya Dibebaskan
  • 2Terjebak Konflik Antarwarga Saat Berkemah di Sekolah, Siswa SMPN 1 Adonara Timur Dievakuasi
  • 3Kehilangan Orangtua dan Kaki Diamputasi, Lovanya, Siswi SD Korban Kecelakaan Maut Cirebon Dijamin Pendidikannya
  • 4Dedi Mulyadi Tegas Tolak Usulan DPRD Jabar Reaktivasi SPP SMA/SMK Negeri, Sekolah Gratis Tetap Berlaku
  • 5Persela Mulai Hilirisasi Lini Bisnis Usai Lolos Uji Kelayakan Stadion
  • 6Pelajaran dari (Populisme) Argentina
  • 7Anggaran Bangun Ulang JPO Tendean Belum Ada, Pramono Cari Dana CSR hingga KLB
  • 8PDI-P Tunggu Jawaban BGN soal Kader Partainya yang Punya Dapur MBG
  • 9Update Harga Emas Hari Ini di Pegadaian, Galeri 24 dan UBS Naik
  • 10Xiaomi Redmi Kids Watch Pro Resmi, Smartwatch Anak dengan Offline Tracking

Tautan

    ©2026  Powered By Paper Trail Lab -  Peta Situs

    Sebagian konten berasal dari internet. Jika melanggar hak Anda, hubungi kami; kami hapus dalam 36 jam.

    • Bisnis
    • Pendidikan
    • Wisata
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Otomotif
    • Berita
    ×