• Olahraga
  • Otomotif
  • Kesehatan
  • Bisnis
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Berita
  • Wisata
›Beranda›Kesehatan›Selat Hormuz dan Rapuhnya Kesepahaman Gencatan Senjata AS-IranArtikel

Selat Hormuz dan Rapuhnya Kesepahaman Gencatan Senjata AS-Iran

Kesehatan2026-09-08 04:59:2387974

Amerika Serikat setelah menyerang Iran sejak 28 Februari 2026, akhirnya menyepakati penghentian pertempuran melalui Memorandum of Understanding di Islamabad, 17 Juni 2026 yang memuat 14 butir kesepahaman. Meski sepakat menghentikan pertempuran, namun MoU itu bukan kesepakatan final perdamaian, melainkan menghentikan sementara permusuhan . Tersedia waktu 60 hari, sampai Agustus 2026 untuk menindaklanjuti MoU dengan harapan terwujudnya perdamaian abadi antarkedua negara yang bermusuhan sejak 1979.

Namun, realitas di lapangan ternyata sangat kompleks, salah satunya adalah persoalan di Selat Hormuz, sebuah selat strategis jalur pelayaran kapal pengangkut minyak dari negara-negara Teluk ke pasar dunia. Sejak perang dimulai, Iran menutup selat dan menjadikannya sebagai senjata asimetris untuk memaksa AS menghentikan serangan dan maju ke meja perundingan. Penutupan selat menyebabkan melonjaknya harga minyak dunia dan memicu krisis ekonomi di sejumlah negara.

Selat Hormuz sepanjang 161 km, memisahkan Iran di sebelah utara dan Oman di selatan, serta menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman. Selat itu memiliki area tersempit, selebar 33 km di Pulau Qesh , dan Semenanjung Musandam di wilayah Oman.

Di daerah sempit ini Iran dan Oman berbagi perairan kedaulatan yang tumpang tindih, karena sesuai hukum internasional , lebar batas laut teritorial adalah 12 mil . Pada titik inilah Iran merasa berkuasa atas perairan teritorialnya itu, padahal di sana berlaku hak lintas transit berdasarkan UNCLOS 82: kapal boleh melintas secara cepat dan tidak boleh dihalangi.

Masalahnya, Iran yang merasakan ampuhnya "senjata selat" berupaya menjadikan Selat Hormuz untuk sepenuhnya berada di bawah kendalinya. Negeri itu membuat sejumlah aturan, termasuk menentukan kapal siapa yang boleh melintas di sana. Iran juga menyebar ranjau yang sangat berbahaya bagi keselamatan navigasi.

Tidak cukup, Iran menetapkan rute yang harus dipatuhi, yakni melalui koridor di dekat pantai Iran. Setiap kapal diminta melaporkan muatan, tujuan, dan pemilik kapal. Bahkan, Iran berencana mengutip biaya transit dari setiap kapal yang melintas.

Berbagai ketentuan itu tidak sesuai dengan UNCLOS 82. Iran adalah pihak yang ikut menandatangani UNCLOS namun tidak meratifikasinya. Itu sebabnya Iran merasa tidak perlu mengikuti berbagai ketentuan UNCLOS. Iran membuat aturan sendiri, termasuk memblokade selat tersebut. Sebetulnya bukan hanya Iran yang menutup Selat Hormuz, karena AS juga melakukan hal serupa: memblokade selat itu bagi kapal-kapal yang berlayar dari dan ke pelabuhan Iran. Blokade AS maupun Iran baru dibuka karena merupakan salah satu dari 14 butir dalam MoU.

Tidak boleh diblokade

Sesungguhnya UNCLOS tidak membolehkan blokade terhadap perairan teritorial yang berstatus selat internasional seperti Selat Hormuz ataupun Selat Malaka. Di sana berlaku azas hak lintas transit sebagaimana diatur pada Pasal 37 hingga Pasal 44 UNCLOS 82. Berdasarkan ketentuan pasal-pasal itu, setiap kapal dan pesawat udara boleh melintas secara terus menerus dan bebas hambatan.

Negara pantai dibenarkan untuk mengatur navigasi pelayaran agar berlangsung aman serta berhak menjaga lingkungan laut, tetapi tidak boleh mengeluarkan izin transit, apalagi menarik biaya dari kapal yang melintas.

Berbagai dinamika yang terjadi di Selat Hormuz menjadi salah satu penyebab rapuhnya gencatan senjata Iran-AS. Pasalnya, Iran berpendapat berhak untuk mengatur lalu lintas pelayaran berdasarkan MoU yang telah ditandatangani. Iran tidak segan mengambil tindakan keras terhadap kapal-kapal niaga yang tidak mematuhi perintahnya seperti terjadi pada kapal Singapura dan Siprus.

Akibatnya, AS terpancing untuk kembali melancarkan serangan ke Iran. Dalam satu minggu terakhir, Militer AS telah melakukan serangan udara ke berbagai sasaran di Iran termasuk membombardir jalan kereta api yang menghubungkan Iran dengan China dan Rusia.

Presiden AS Donald Trump, bahkan mengancam "akan melenyapkan Iran dari muka bumi".

Iran membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di Bahrain, Kuwait, Yordania, dan Pelabuhan Duqm di Oman yang melayani logistik militer AS. Iran juga menutup Selat Hormuz sebagai balasan atas tindakan AS yang kembali menyerang Iran.

Melihat realitas saling serang antara AS dan Iran, lalu bagaimana nasib MoU yang menjadi dasar pemberlakuan gencatan senjata sampai Agustus mendatang? Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan negerinya tetap memegang MoU sepanjang AS juga mematuhinya.

"Kesepahaman ini adalah masalah timbal balik. Jika pihak Amerika tetap berkomitmen terhadap nota kesepahaman tersebut, kami juga akan memenuhi komitmen kami," kata Pezeshkian dalam unggahannya di X.

Dengan memahami kondisi lapangan yang terjadi saat ini, tampaknya konflik ASIran masih jauh dari kata selesai. Padahal, dunia menaruh harapan besar agar konflik dapat diakhiri melalui pakta perdamaian sehingga Selat Hormuz kembali bebas dilalui dengan aman agar distribusi minyak dunia kembali stabil.

Lesson learn yang dapat dipetik bagi Indonesia dari konflik AS-Iran, terutama yang terkait dengan permasalahan di Selat Hormuz adalah pentingnya menjaga selat strategis di perairan Indonesia dan tiga Alur Laut Kepulauan Indonesia agar senantiasa aman dan terbebas dari intervensi kekuatan asing. Selat-selat strategis yang berstatus selat internasional sudah seharusnya dilayari oleh kapal dari berbagai negara dengan aman, bebas, dan tanpa biaya transit.

Simak juga Video: AS Blokade Selat Hormuz, Iran Akan Lawan!

[Gambas:Video 20detik]

URL artikel:http://www.papertraillab.com/html/412f799580.html
Hak Cipta

Artikel ini mewakili pandangan penulis, bukan posisi situs.
Diterbitkan dengan izin penulis; dilarang menyalin tanpa izin.

Artikel Terkait

  • Honda Bicara Soal Target Motor Listrik Pemerintah 2030

  • 3 Kapal di Muara Angke Jakut Terbakar, Damkar Kerahkan 65 Personil

  • Menolak Lupa ala Argentina dan Pengalaman Indonesia

  • Head to Head Spanyol Vs Argentina Jelang Final Piala Dunia 2026, Siapa Lebih Banyak Menang?

  • Jadi Tersangka 3 Kasus Korupsi, Febrie Adriansyah Belum Ditahan

  • Spesialis Maling Motor Bersenpi Ditangkap Polisi, Sudah Beraksi 20 Kali di Jaksel

  • Ramai-ramai Anggota DPR Cecar WTP untuk BGN Era Dadan: Dibikin-bikin?

  • ITS Kembangkan Material Komposit Hibrida dari Limbah Sawit, Ringan tetapi Berkekuatan Tinggi

Artikel Populer

  • 1Cerita Pasutri Asal Tangerang Rutin Ikut Event Lari demi Jaga Keharmonisan Rumah Tangga
  • 2Fakta di Balik Erling Haaland Bawa Rakun Awetan, Awalnya Niat Beli Topi Koboi
  • 3DBS Optimistis Pasar Saham RI Bangkit, IHSG Diproyeksi Menuju 8.000 di Akhir Tahun
  • 4Cara Tuchel Lepas Stres di Timnas Inggris, Bersepeda dan Makan Es Krim
  • 5Prabowo Bicara Pangkas Anggaran Pertahanan, Legislator: APBN untuk Rakyat
  • 6Divonis Penjara 10-13 Tahun, 3 Otak Pembunuhan Kacab Bank BUMN Pikir-pikir Ajukan Banding
  • 7Pencarian 25 Korban KM Nurul Salsa yang Hilang Diperluas hingga 448 Mil Laut Persegi
  • 8Mal-mal Surabaya Dipagari Besi Tinggi, Pengelola: Murni Penataan
  • 9Head to Head Spanyol Vs Argentina Jelang Final Piala Dunia 2026, Siapa Lebih Banyak Menang?
  • 107 Fakta Anak Angkat Bunuh Ayah di Nganjuk, Dendam Pola Asuh Keras Sejak Kecil
  • 11Spanyol Vs Argentina: Lionel Scaloni Berharap Bisa Kunci Lamine Yamal di Kamarnya
  • 12Hasil Piala AFF Wanita 2026: Indonesia Runner up Grup B Usai Ditahan Kamboja 1-1

Tag Populer

  • Wisata
  • Teknologi
  • Bisnis
  • Hiburan
  • Berita
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Otomotif

Populer Situs

Xiaomi Redmi Kids Watch Pro Resmi, Smartwatch Anak dengan Offline Tracking

Kronologi Dugaan Penculikan Atlet Golf di Restoran Jakpus Saat Rayakan Ulang Tahun Nenek

Disebut Perlu Beri Kompensasi Gangguan Layanan Air ke Pelanggan, Ini Penjelasan PAM JAYA

20 Negara dengan Kekayaan Rata-rata Penduduk Tertinggi, Ada Tetangga Indonesia

Harga Beras Naik di Aceh Sepekan Terakhir, Stok Gabah Menipis

Kritik Zlatan Ibrahimovic atas Kegagalan Inggris di Piala Dunia 2026

Apa Itu WAICO? Organisasi AI Dunia yang Baru Didirikan dan Indonesia Jadi Salah Satu Pendirinya

WNI Diduga Jadi Korban Pembunuhan di Armenia, Terduga Pelaku Juga WNI

Artikel Populer

  • 1Faiq Pedagang Kambing di Kota Batu Santai Ramai Disebut Mirip Yesus
  • 2Garda Prabowo: Tiyo Ardianto Cerdas tapi Salah Teman
  • 3Syarat Beasiswa Bright 2026, Ada Biaya UKT Penuh, Tunjangan Bulanan dan Asrama
  • 44 Pemimpin Dunia yang Akan Hadiri Final Piala Dunia 2026, Siapa Saja?
  • 5Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
  • 6Wasit Sepak Bola dan Hakim Pengadilan
  • 7Guru Gen Z di Malang Manfaatkan Instagram untuk Promosi Sekolah
  • 8Spesialis Maling Motor Bersenpi Ditangkap Polisi, Sudah Beraksi 20 Kali di Jaksel
  • 9Profil Timnas Argentina Jelang Final Piala Dunia 2026 Lawan Spanyol
  • 10Menkeu Purbaya Sebut Koperasi Desa Merah Putih Pasti Untung asal Tidak Dikorupsi

Tautan

    ©2026  Powered By Paper Trail Lab -  Peta Situs

    Sebagian konten berasal dari internet. Jika melanggar hak Anda, hubungi kami; kami hapus dalam 36 jam.

    • Olahraga
    • Hiburan
    • Pendidikan
    • Bisnis
    • Kesehatan
    • Wisata
    • Berita
    ×